Kamis, 05 Oktober 2006
Forum Editorial
Edisi Aktual
Edisi Cetak
Edisi Cetak (PDF)
 
EDITORIAL PAGI
SEBUAH kontradiksi terjadi antara Indonesia dan Singapura. Indonesia hendak..
Komentar Anda | SMS
EDITORIAL MALAM
KURIKULUM pendidikan Indonesia rupanya terus ditakdirkan berada dalam dunia..
Komentar Anda | SMS
Kamis, 05 Oktober 2006
EDITORIAL
Pajak, Madu atau Racun

SEBUAH kontradiksi terjadi antara Indonesia dan Singapura. Indonesia hendak memperberat pajak agar pendapatan negara meningkat, Singapura justru berbuat sebaliknya, hendak meringankan pajak. Negara tetangga itu, misalnya, bermaksud menghapus pajak dividen.

Rencana penghapusan pajak dividen itu merupakan salah satu pasal yang diusulkan dalam perubahan undang-undang pajak Singapura yang memang direvisi untuk menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi. Intinya ialah adanya penurunan tingkat pajak.

Penghapusan pajak dividen itu tentu saja semakin memperkuat daya saing Singapura, bahkan kian menambah keelokan negara kota itu sebagai tempat pengusaha menanamkan modalnya. Penghapusan pajak dividen jelas menambah 'seksi' Singapura sebagai tempat untuk mendirikan dan berkantor pusatnya holding company.

Dampaknya kepada Indonesia tentu sangat signifikan. Tanpa pembebasan pajak dividen sekalipun, Singapura telah menjadi tempat pengusaha Indonesia untuk melarikan dan memarkir modalnya. Bahkan, Singapura merupakan negara terdekat dan paling aman untuk para konglomerat hitam Indonesia melarikan diri. Bukan hanya modalnya yang hengkang ke Singapura, sekaligus juga dengan orangnya.

Maka, berlakunya penghapusan pajak dividen di Singapura sudah pasti kelak menambah terbitnya air liur pengusaha Indonesia untuk lebih melirik Singapura. Perkara yang wajar, menyangkut keputusan bisnis yang rasional. Sebab, kapital sesungguhnya tidak mengenal kebangsaan, tidak terikat nasionalisme, terlebih di zaman global. Kapital hanya mengenal lokus yang aman dan menguntungkan.

Oleh karena itu, berbagai kemudahan yang diberikan berbagai negara di kawasan ini--dari Singapura hingga Vietnam--mestinya juga menjadi pertimbangan pokok pemerintah dan DPR dalam membahas serangkaian revisi undang-undang pajak yang baru. Yaitu, agar undang-undang pajak yang dihasilkan bisa meningkatkan daya saing Indonesia, setidaknya membuat Indonesia lebih 'seksi' bagi investor. Jika bisnis tumbuh dan berkembang, pajak pun meningkat.

Sebaliknya, memakai kacamata bendi, semata untuk mengeruk pajak sehebat mungkin demi mengisi kocek pendapatan negara, boleh jadi justru akan menghasilkan pepesan kosong. Sebab, tidak ada pajak yang meningkat jika bisnis meranggas dan tidak ada yang tertarik berbisnis di negeri yang pajaknya tinggi dan korupsinya merajalela.

Singkatnya, pajak mestinya madu, bukan racun. Menjadikan pajak sebagai madu itulah yang dilakukan Singapura.


Komentar terpilih akan dimuat di rubrik 'Bedah Editorial' Harian Media Indonesia edisi esok
KOMENTAR/TANGGAPAN ATURAN KOMENTAR
JUDUL TANGGAPAN
Pajak is Upeti
> APEL VS APEL? ATAU APEL VS KESEMEK?
Orang Bijak
Bisa madu, Bisa juga Racun
PAJAK YANG MANA?
Jaminan Keamanan
Pajak lagi, pajak lagi
bocor
IRONI PAJAK NEGERI INI
Re: IRONI PAJAK NEGERI INI
Pajak Racun Kecerdasan
Banyak belajar dan sadar.
singapura pake otak & kepandaian, indonesia otot & nafsu
Apresiasi masyarakat terhadap bangsanya
Bingung
Pajak sama dengan Racun
INDONESIA: MADU BAGI SINGAPURA ...!!!
NASIB BANGSA INDONESIA......
MADU DAN RACUN DI NEGARA INI.......................................
Pajak ? TOP dech....
Pajak ohh Pajak
Ah.........Jak.........Pa.......Jak
?+?=?? ; dan Korupsi jalan terus, seperti biasa
Madu bagi........ racun buat...........!!!
Re: Madu bagi........ racun buat...........!!!
SARAN .. untuk MIOL
Jangan bunuh sapi untuk ambil susu
JADI INGAT CERITA2 RAKYAT ....................
Re: JADI INGAT CERITA2 RAKYAT ....................
KOMENTAR/TANGGAPAN
EDITORIAL LAINNYA
Rabu, 04 Oktober 2006
Rabu, 04 Oktober 2006
Selasa, 03 Oktober 2006
Selasa, 03 Oktober 2006
Senin, 02 Oktober 2006
Senin, 02 Oktober 2006
Minggu, 01 Oktober 2006
Sabtu, 30 September 2006
© 2003 Media Indonesia. All rights reserved.
Partnered with Indonesia Interactive Comments and suggestions please email miol@mediaindonesia.co.id