Berita via SMS
MEDIA ANDA

Halaman:  1 2 3 4 5 6 7 > »
Bagaimana Mereka Sesudahnya?

Sering saya baca ketika teroris beraksi, berapa jumlah yang mati, yang luka-luka dan apa saja yang hancur lebur. Berita surat kabar, radio dan tv silih berganti dengan laporan dari tempat kejadiannya.

Seminggu kemudian, sesuatu yang lebih seru terjadi di Chechenia atau Iraq dan kita secara tak sadar pun lupa apa yang terjadi minggu lalu.

Misalnya bagaimana para korban yang luka parah? Bagaimana keluarga para korban yang mati, menghadapi hari esok? Bagaimana yang lain yang mengalami trauma?

Kan perlu juga orang tahu bahwa bom meledak seketika, tapi akibatnya (apalagi yang menyangkut kejiwaan)akan membekas dalam kenangan seumur hidup! Bagaimana?


Lasma Siregar
las032002@yahoo.com
Windsor 3181, Australia

Sandhyakala di Nusantara

Kita sedang berada pada jaman dimana budi pekerti seakan dikesampingkan. Dekadensi moral sedang merebak luas ke seluruh Nusantara. Sebagian dari kita merasa tidak tahan, karena masih terkendali oleh nurani. Memang, bila tidak ikut geraknya jaman, mungkin jadi tak kebagian, bahkan bisa melarat.

Di jaman “edan” seperti ini, kita harus percaya bahwa Tuhan sedang mewujudkan kasihNya, dalam bentuk ujian dan cobaan. Karena itulah, harus terpatri dibenak kita, bahwa sebahagia-bahagia orang yang lupa diri, akan lebih bahagia orang yang senantiasa eling dan waspada.

Masih segar dalam ingatan, kita melalui perioda dimana seluruh apa yang dicita-citakan sebagai bangsa seakan buyar, seluruh kehendak tiada terwujud, yang dirancang jadi berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah. Di jaman ini, yang tampak hanya perbuatan tercela. Orang kuasa hilang wibawa, lebih baik tercemar nama dari pada bertemu derita, sedangkan wong cilik seakan tidak mau mengerti akan keadaannya.

Begitu banyak orang tampaknya alim, namun itu semu belaka. Di luar tampak beriman, dalam hatinya ternyata preman. Orang terkenal, bangga akan dosa-dosa, wanita hilang kewanitaannya karena pengaruh harta benda. Pemuka agama ada yang terlibat madat, madon, minum dan berjudi. Di jaman ini, harta bendalah yang utama.

Pemuka agama saling berebut pengaruh, para pemimpin negara terjerat susah, sampai diseret ke meja hijau, pedagang banyak menderita rugi, sang petani-pun merana, sawah terkena bencana, sekeras-keras kuli bekerja upah tak seberapa. Kerusakan menjadi sangat hebat, sebab orang berebut dan rela jadi penjarah, karena tak kuasa menahan perihnya perut. Bila malam berkeliaran maling, siang hari rampok gentayangan. Hukum dan pengadilan kurang wibawa, perintah berganti, keadilan masih jauh dari harapan. Yang benar dianggap salah, si penjahat malah makin hebat.

Ditambah derita dari alam. Wabah demam berdarah membawa kematian dimana-mana. Hujan tak tepat waktu, merusak ratusan hektar sawah sang petani. Topan datang menerjang, gempa mengguncang, hingga banyak bangunan roboh pohon pun tumbang. Sungai meluap mendatangkan banjir, gunung besar bergelegak menyemburkan lahar yang menakutkan. Kebakaran dan asap dimana-mana, menambah sengsara bangsa kita.

Permasalahan datang silih berganti, menimpa negara yang kita cintai. Krisis ekonomi berlanjut jadi krisis politik, lalu sebentar lagi, jika kita salah langkah, mungkin terjadi krisis legitimasi dan krisis motivasi. Begitu deras derita datang berulang, seharusnya membuat para pemimpin dan warga bangsa, berinterospeksi - bercermin diri -mulat sarira, sadar bahwa kita sedang melalui titian serambut dibelah tujuh, cobaan dari Sang Pengasih. Ujian dan cobaan, bila dapat kita lalui, akan menaikkan “kelas” dan membawa bangsa kita menjadi dewasa. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat lolos dari wot ogal-agil atau titian serambut dibelah tujuh ini?

Sandhya kala, sandhya dalam kamus Jawa Kuno karangan Zoetmoelder, berarti berdoa, dan kala berarti waktu atau saat. Sehingga sandhyakala dapat berarti waktu yang tepat untuk berdoa. Layaknya mentari, ada saatnya fajar merekah, siang ‘kan datang, dan pada akhirnya senjakala menjelang, sebelum diliput oleh kelamnya malam. Di saat sandhyakala atau senjakala, sinar mentari remang-remang, saru dan tidak jelas, karena dia adalah masa “transisi” dari siang ke malam. Sama seperti keadaan bangsa kita di awal reformasi, nilai-nilai orde baru yang ingin dicerabut masih kuat menancap, sementara era reformasi tak kunjung kokoh seperti yang diharap. Menjadi hambar, bagai air sungai yang sampai di muara, tidak lagi tawar namun belum juga terasa asin.

Menurut beberapa kepercayaan, waktu transisi antara siang ke malam, saat senjakala, dan dari malam ke pagi yakni subuh, adalah saat yang tepat untuk berdoa. Analog dengan hal tersebut, bangsa kita sedang mengalami masa transisi. Di akhir orde baru menjelang era reformasi adalah senjakala dengan berbagai perkara akibat keadaan yang tidak menentu. Dan saat ini, setelah bangsa ini bekerja keras - berjuang mengatasi kelamnya malam era reformasi, tibalah saat menyongsong fajar baru yang mudah-mudahan lebih baik dari kelam yang telah kita lalui.

Waktu menjelang fajar, adalah waktu yang tepat untuk memanjatkan doa. Berdoa secara pasif dengan memohon kasih dan rahmat Sang Kuasa, dan secara aktif dengan cara mengendalikan fikiran, perkataan dan perbuatan agar tetap eling - ingat akan ajaranNya dan selalu waspada – dalam menghadapi geraknya jaman. Dengan sikap eling dan waspada ini, mudah-mudahan kita sebagai bangsa menjadi sadar, bahwa setelah badai krisis ekonomi yang diiringi krisis politik, maka jika tidak dibangun kepercayaan dari rakyat (trust building), maka tak ayal lagi, segera akan tiba krisis legitimasi dan krisis motivasi.

Krisis legitimasi akan menghancurkan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga negara dan krisis motivasi menyebabkan hilangnya semangat rakyat untuk bekerja dalam mendukung sistem perekonomian. Potensi krisis legitimasi dan krisis motivasi sangat besar, karena terbelahnya suara rakyat dengan sistem pemilihan presiden langsung ini. Dan apabila cara pemilihan baru ini, tidak juga dapat mengangkat bangsa dari krisis, maka tak pelak lagi, rakyat akan kehilangan motivasi karena telah dicoba berbagai sistem, tapi tanpa hasil.

Menyelesaikan masalah bangsa yang kompleks dalam waktu singkat, juga merupakan suatu kemustahilan. Perbaikan subsistem ekonomi, politik dan sosio-kultural yang komprehensif memerlukan waktu yang panjang. Sementara itu, rakyat sudah sangat mendambakan perbaikan nyata. Mereka telah muak dengan berbagai konflik yang merebak, yang sangat bertentangan dengan kaidah rukun yang selama ini mereka anut. Perang urat syaraf yang berkepanjangan di lembaga eksekutif sangat berlawanan dengan prinsip saling-hormat menghormati yang sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun yang silam. Apalagi melihat perilaku tidak adil dari oknum-oknum di lembaga peradilan yang menjadi tanggung jawab lembaga yudikatif, serta perilaku sebagian anggota legislatif yang jauh dari keinginan untuk membela kepentingan rakyat, sungguh amat menyesakkan kalbu.

Langkah untuk meredam bahkan menghilangkan keadaan tersebut, sebenarnya dapat dimulai dari saat berkompetisi dalam meraih posisi puncak kepresidenan. Para kontestan, dalam menuju puncak harus tetap eling dan waspada. Eling diwujudkan dengan menggunakan cara-cara yang halal dan konstitusional dalam persaingan. Serta tetap waspada oleh godaan dan campur tangan pihak lain, yang mungkin tidak menghendaki ketenangan negeri ini.

Kita yang sudah sama-sama tua ini, harus mencontoh generasi muda saat bersaing dalam 'Indonesian Idol' atau 'Akademi Fantasi' di televisi. Para kontestan bersaing dengan mengerahkan segenap potensi mereka, juri boleh berkomentar, tapi akhirnya “rakyat” – atau fans merekalah yang menentukan, siapa sang juara. Jauh dari kegiatan money politics apalagi merekayasa bantuan dari pihak lain. Setelah kemenangan di raih, mereka membangun kebersamaan, tiada saling curiga, jauh dari rasa permusuhan. Alangkah indah kalau Capres/Cawapres mampu mencontoh semangat mereka dalam berkompetisi.

Presiden/Calon Presiden terpilih, harus mampu mengambil sikap menang tanpa ngasorake, menang tanpa harus menepuk dada. Dan berlandaskan kaidah rukun dan prinsip saling menghormati, segera merangkul berbagai pihak, termasuk yang kalah, untuk membangun kebersamaan, demi mengutamakan kepentingan yang lebih besar dengan meredam kepentingan pribadi atau golongan (sepi ing pamrih), bergotong royong membangun kebersamaan untuk melaksanakan tugas dan kewajiban dari seluruh elemen bangsa dengan sebaik-baiknya (rame ing gawe), sehingga dapat segera terlihat langkah-langkah kongkrit dalam mengatasi permasalahan dan membuat bangsa kita jadi rahayu (memayu hayuning bawana).

Berlatar belakang berbagai hal di atas, maka berkumpullah para tokoh lintas agama yang terdiri dari Bpk Syafii Maarif dari PP Muhamadiyah, KH Masdar F Mas’udi dari PBNU, Pdt Nathan Setiabudi dari PGI, Romo Sigit Pramuji dari KWI, IB Made Jaya Martha dari Prajaniti Hindu Indonesia, Ven Prajnavira Mahathera dari KASI, Budi S Tanuwibowo dari Matakin bersama dengan beberapa elemen pemuda. Para tokoh lintas agama berusaha membangun komunikasi dalam rangka mewujudkan kebersamaan, dengan menggulirkan gagasan Kerangka Kebersamaan Minimal (KKM).

KKM disusun berlandaskan kajian mendalam terhadap potret terkini masyarakat, aspek moral, prediksi kedepan dan langkah-langkah yang dapat dilakukan, sesuai kompetensi yang dimiliki oleh kaum ulama. Setelah melalui diskusi panjang, konsep ini lalu disosialisasi ke pihak-pihak terkait. Tokoh-tokoh nasional yang telah diajak berkomunikasi antara lain Ibu Presiden Megawati Soekarnoputri, Bpk Soesilo Bambang Yudhoyono, Ketua Mahkamah Konstitusi, Panglima TNI dan Kapolri, disusul nantinya tokoh-tokoh nasional lainnya.

Gerakan moral ini, jauh dari kehendak untuk dukung-mendukung calon presiden. Tetapi semata-mata untuk memberikan saran kepada kedua calon presiden dan elemen bangsa yang lain, agar tetap eling dan waspada dalam mengambil setiap langkah dalam meraih puncak kekuasaan. Dan apabila kekuasaan telah diraih, segera membangun kebersamaan mengacu pada kaidah rukun dan sikap hormat. Konsep KKM menghendaki, presiden dan wakil presiden terpilih, mampu bersikap menang tanpa ngasorake, merangkul pihak yang kalah dan menjalin komunikasi dengan seluruh komponen bangsa berlandaskan sepi ing pamrih, sehingga tercipta suasana rame ing gawe untuk memayu hayuning bawana – membuat bangsa ini rahayu.

Tanpa langkah awal seperti ini, sangat sulit untuk mengelola negara dengan sisa permasalahan yang kompleks. Kepercayaan seluruh rakyat harus direbut oleh Presiden Terpilih dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Karena dengan pemilihan langsung, suara rakyat pastilah terbelah, dan perbedaan tersebut, bila tak dikelola dengan baik, menjadi bibit konflik tiada akhir, yang akan menambah kelam fajar yang akan datang. Karena itulah konsep ini, berisi kerangka kesepakatan minimal, sebagai target awal untuk perjalanan panjang dalam menyelesaikan permasalahan bangsa tahap demi tahap.

Sebagai salah satu pengawal sosio-kultural, para tokoh lintas agama, sangat memahami posisinya. Kontribusi yang dilakukan, disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki yakni dengan berdoa memohon rahmat dan kasih dari Sang Pencipta, dan juga secara aktif membangun komunikasi untuk sekedar memberikan saran dan pandangan kepada penyelenggara negara. Setelah berdoa dan memberi saran pendapat, maka tindakan pelaksanaan diserahkan sepenuhnya pada pihak yang berkompeten seperti lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sehingga konsep seruan moral yang disusun dalam bentuk kerangka ini, dibawah pimpinan Presiden terpilih, nantinya dapat dimodifikasi lalu diisi dan dilengkapi, bersama-sama dengan seluruh komponen bangsa terkait, sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

Setelah mengikuti proses dari awal sampai saat ini, menurut pandangan saya pribadi, KKM telah diterima dengan tangan terbuka oleh tokoh-tokoh yang diajak berdialog. Mudah-mudahan usaha keras yang telah dilakukan oleh para tokoh lintas agama, mendapatkan rahmat dari Yang Maha Kuasa sehingga pokok-pokok pikiran, usaha komunikasi dan tindakan yang telah dan akan dilakukan, dapat membawa bangsa Indonesia, selamat dari ujian dan cobaan yang diberikan dari Tuhan. Kasih Tuhan dalam bentuk ujian, apabila dapat kita lalui, pastilah menambah kedewasaan kita sebagai bangsa. Semoga.

Disusun oleh,

salah seorang penandatangan Kerangka Kebersamaan Minimal.


IB Made Jaya Martha
ibmjayamartha@hotmail.com
Jl Gading Mas Barat Blok F8/1 Kelapa Gading, Jakarta Utara

Jangan Jadi Bangsa Munafik

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh penarikan film BCG dari bioskop. Beberapa tokoh seperti Aa Gym khawatir bahwa film ini akan merusak moral remaja kita. Sampai disini menurut saya positif saja, tetapi bila kita melihat masalah perusakan moral ini lebih luas, sebenarnya banyak film-film yang baik dari segi cerita maupun gambarnya jauuuuh lebih parah dari sekedar ciuman dalam film BCG.

Ambil contoh dengan maraknya penjualan DVD bajakan di salah satu sudut kota Bandung yang sangat murah harganya. Disana kita dapat jumpai banyaknya judul film remaja barat dengan tema sex yang jauh lebih vulgar daripada film BCG. seperti American Pie, Kids dan sejumlah judul lainnya yang dijual dengan harga sangat murah, yakni Rp5.000 perak.

Hal ini sebenarnya sudah merusak moral dua kali, pertama dari segi isi filmnya dan kedua dari segi BAJAKANNYA.

Sadarkah wahai anda-anda wakil Tuhan yang selalu protes dengan masalah pornografi dan pornoaksi, haram halal dan sebagainya terhadap fenomena DVD bajakan seperti yang saya singgung diatas?

Kenapa yang diprotes selalu tempat maksiat, diskotek, presiden perempuan dsb tapi tukang jual software bajakan, CD dan DVD bajakan kayaknya adem-adem aja?

Sepertinya kok bangsa ini makin munafik saja, di satu sisi masyarakat teriak haram-haram, disisi lain penjualan DVD, CD Audio dan berbagai software bajakan sangat-sangat-sangat digemari masyarakat.

Jangan teriak haram dulu, jika PC di rumah kita masih pakai windows bajakan, jika kita masih suka dengar lagu-lagu nasyid dari MP3. Jangan teriak HARAM dulu kalau belum mampu beli softeware, DVD atau CD original..

MUNAFIK..


Benyamin
ishaputra@yahoo.com
Bandung

Halaman:  1 2 3 4 5 6 7 > »

Copyright © 2003 Media Indonesia. All rights reserved.
Partnered with Indonesia Interactive
Comments and suggestions please email miol@mediaindonesia.co.id
Berita Terkini
Warga Surabaya Gotong Royong Siapkan TPS
Myskina/Sugiyama Juara Ganda Wismilak International
Beredar SMS Ajakan Pilih Capres Tertentu
Kurang Dana, TPS di Palu Dialihkan ke Rumah Penduduk