Berita via SMS
MEDIA ANDA

Halaman: <  2 3 4 5 6 7 8 >
Merah-Putihku

17 Agustus merah-putih berkibar di seluruh Indonesia. Para pejuang menatapnya dengan haru dan bangga. Merah-putih yang telah mereka pertahankan dengan darah dan nyawa.

Tetapi minggu depan atau bulan depan, merah-putih tak lebih hanya kain dua warna yang berkibar di tiang bendera di kantor-kantor pejabat di seluruh Indonesia. Tanpa arti. Tanpa makna.

Dimana rasa cinta tanah air mereka jika mereka bisa menutup mata berpura-pura tidak melihat orang-orang serakah yang menghancurkan Indonesia. Orang-orang serakah yang merampok dan mencuri kekayaan alam Indonesia kemudian menggantinya dengan pencemaran tanah, air dan udara.

Mungkin ini adalah kenyataan bahwa hanya tersisa beberapa gelintir orang saja yang masih mempunyai rasa cinta tanah air tetapi suara mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk teriakan lantang pelacur jabatan. Sakit hati ini rasanya melihat semua kebobrokan itu tetapi apa daya mereka penguasa yang mulia. Mereka tidak peduli dengan Indonesia. Yang penting cukup untuk makan dan menimbun kekayaan. Jabatan telah menjadi sarana untuk menjual diri demi menjadi piaraan cukong-cukong serakah.

Ya ALLAH mengapa hanya orang serakah yang bisa hidup makmur dan sejahtera di Indonesia...? Mengapa rakyat jelata tidak bisa hidup makmur dan sejahtera..?

Merah-putihku tetaplah berkibar. Tetapi entah sampai kapan kebobrokan ini berjalan.


Chandra
albatr05@yahoo.com
Ngagel Mulyo VI No 43 Surabaya 60245

Marinir Bukan Malaikat

Mengamati sejumlah pemberitaan baik cetak maupun elektronik beberapa hari yang lalu tentang bentrokan sejumlah oknum Marinir dengan penduduk Desa Gebang, Lampung, saya sungguh prihatin. Bagaimana tidak?! selain media massa, beberapa LSM juga ikut menghakimi dengan tudingan yang memojokkan salah satu Korps kebanggaan TNI AL itu.

Saya, sebagai seorang dari keluarga TNI berharap, agar kita tidak perlu memvonis bahkan sampai "menghabisi" Marinir sebagai pihak yang bersalah. Satu sisi memang oknum Korps Marinir melakukan kesalahan, tetapi janganlah sangsi normatif diberlakukan untuk seluruh anggota Korps Marinir, yang nantinya akan berdampak buruk terhadap moril para prajurit di masa mendatang. Intinya, sama-sama instropeksi lah, Marinir juga manusia biasa yang bisa bertindak salah, "BUKAN MALAIKAT.."


Coki
coki_hot@yahoo.com
Jakarta Timur 13420

Pro dan Kontra Pembredelan Film BCG

Pembredelan Film "Buruan Cium Gue" (BCG) setelah mendapat protes keras dari MUI, Aa Gym, dan kalangan masyarakat lainnya masih menimbulkan pro dan kontra. Film ini sejak Jumat, 20 Agustus 2004, harus ditarik dari peredaran karena surat lulus sensor film tersebut ditarik kembali oleh Lembaga Sensor Film (LSF) atas permintaan Menbudpar (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata) setelah menerima masukan dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N).

Walaupun banyak masyarakat yang lega dengan ditariknya film ini, masih banyak yang kontra dengan pembredelan film ini. Mereka yang kontra antara lain menyebutkan bahwa pembredelan tersebut dapat merusak kreativitas berseni, banyak film Indonesia terutama era 1980-1990an yang lebih erotis tapi tidak diprotes, dan bahwa film itu tidak bertujuan merusak moral tetapi hanya memberikan gambaran apa yang sedang terjadi di kalangan remaja ibu kota masa kini.

Mereka paling banyak memprotes karena agama dibawa-bawa dalam masalah pembredelan film ini. "Kalau dikaitkan dengan agama, di Indonesia nggak boleh ada industri film. Film itu tidak ada yang sesuai dengan ajaran agama. Tidak mungkin," kata Raam Punjabi kepada Gatra.

Pertama yang harus diluruskan adalah apakah benar agama mengharamkan membuat film? Banyak film yang diproduksi dari negara Islam yang cukup ketat lembaga sensornya seperti Iran, Malaysia bahkan Afghanistan yang paling konvensional pun ikut membuat film.

Dan bila agama dan moral dijadikan dalil untuk mengkritisi suatu film, bukankah negara ini adalah negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berdasarkan UUD 1945 Pasal 29 ayat 1. Bahkan pertimbangan agama dan moral banyak dipakai dalam pembuatan undang-undang di seluruh dunia termasuk Belanda yang menghasilkan KUHP yang sampai sekarang masih dipakai di negara ini.

Lagipula selain norma agama dan susila, film 'BCG' ini juga jelas-jelas melanggar norma hukum yang berlaku yaitu PP No 7 tahun 1994 yang mengatur tentang Lembaga Sensor Film. PP ini menyebutkan bahwa bagian-bagian yang perlu dipotong atau dihapus dalam suatu film (termasuk acara televisi) dan reklame film adalah, antara lain: ....

b. 'close up' alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup maupun tanpa penutup;

c. ciuman merangsang oleh pasangan lain jenis atau sejenis; ....;

g. menampilkan alat-alat kontrasepsi yang tidak sesuai dengan fungsi yang seharusnya atau tidak pada tempatnya;

h. atau adegan-adegan yang menimbulkan kesan tidak etis.

Sementara pada UU Pers No. 40/1999 pasal 5 ayat 1, tertera bahwa: "Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat . . . ". Dalam UU Penyiaran 1997, pasal 32 ayat 7 dinyatakan: "isi siaran yang mengandung unsur . . . pornografis . . . dilarang".

Masalah yang lain adalah apakah benar kreativitas seni tidak bisa berkembang dengan menghormati nilai-nilai moral dan agama. Film peraih berbagai penghargaan festival film Internasional, 'Bulan Tertusuk Ilalang' menampilkan adegan seorang anak jalanan melakukan masturbasi dengan selang, seorang wanita penjual warteg terpaksa melacur sesekali jika tak punya uang, tapi film itu tetap mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat.

Film 'Arisan' juga menampilkan adegan ciuman antar sesama jenis, seorang ibu rumah tangga yang doyan menyeleweng, adegan kasar perkelahian pelacur dengan germonya di penjara, namun masyarakat dapat mengerti mengapa adegan-adegan tersebut harus dimasukkan.

Film 'Missisipi Burning' tentang rasialisme banyak menampilkan adegan kekerasan terhadap kaum Negro namun memiliki tanggapan yang berbeda dari publik Amerika bila mereka merespon adegan-adegan kekerasan di film-film action Sylvester Stalone. Semua ini menunjukkan satu hal yang penting dalam film-film tersebut yaitu adalah idealisme suatu film.

Film-film tersebut meskipun juga menampilkan adegan seks dan kekerasan namun tidak mengeksploitasinya sebagai alat jual. Ada pesan moral dan esensi yang lebih penting dari keseluruhan film-film itu sehingga adegan-adegan tersebut hanya sebagai pelengkap saja bukan hal utama yang ditonjolkan dalam film-film itu.

Kita tentu saja tidak bisa mengharamkan adegan pemerkosaan bila membuat film tentang Aceh, adegan kekerasan bila membuat film tentang Ambon, atau adegan pelacuran, pembunuhan, penyiksaan bila ingin mengemukakan realitas tertentu. Tapi semua itu tidak harus digambarkan secara gamblang, justru disinilak para kreator seni diuji kecerdasannya bagaimana mensimbolisasi adegan-adegan tersebut sehingga tidak merusak esensi film.

Tentunya tidak perlu mengekspos adegan pmerkosaan secara eksplisit, dengan simbol-simbol gambar tertentu, penonton juga sudah mengerti bahwa tokoh dalam film itu diperkosa. Dalam film 'Arisan' misalnya ada adegan pasangan sesama jenis habis bercinta namun disimbolisasikan dengan halus sekali sehingga tidak perlu menampilkan adegan itu dengan eksplisit.

Tidak seperti 'BCG' yang terang-terangan menampilkan adegan ciuman di bagian leher yang sudah dibasahi minuman keras serta ciuman lama di bibir. Juga petikan dialog yang amat vulgar, "Kalau loe bisa bikin simpul di tangkai ceri pake lidah, berarti loe kalo ciuman jago banget."

Dari segi judul pun sudah tidak etis dan mengundang kontroversi. Apakah ini semua tidak berlebihan untuk sebuah film pop remaja?

Bagaimanapun pembuat film berkelit, akhirnya penilaian jatuh ke tangan penonton. Kedua aktor dan aktris muda, Ladya Cheryl dan Aryo Wahab sepakat kalau film 'BCG' tidak mendidik. Menurut Ladya, film itu mengundang berahi penonton sehingga ia menentang penayangan 'BCG'.

Dalam film 'Biarkan Bintang Menari', Ladya mengaku sempat diminta sutradara untuk berciuman di akhir film. Namun dia tolak. "Akhirnya, film dibuat se-tuchi [menyentuh] mungkin tanpa harus berciuman," kata Ladya. Sementara menurut Aryo, dia merasa risi menonton film 'BCG'. "Bayangin kalau anak-anak yang nonton," kata Aryo.

Dia memegang teguh prinsip dalam menerima peran. Aryo mengaku akan menolak tawaran main film 'BCG'. "Sebelum berlanjut, mending ditarik," kata Aryo.

Tanggapan siswi-siswi SMUN 70 pun tak jauh berbeda. Ketika ditanya pendapat mereka tentang pembredelan film 'BCG', semua responden menjawab setuju. "Setuju banget!! abis filmnya gak 'penting' dan bukan film yang edukatif dan merusak moral remaja," ujar Sarah (15). "Filmnya sendiri ceritanya tidak terlalu istimewa'" kata Ayu (16).

Mengenai banyaknya film Indonesia jaman dulu yang jauh lebih erotis bahkan notabene hanya menjual adegan seks, tentunya itu adalah masa kelam perfilman Indonesia yang tidak perlu diulang lagi. Masa kini adalah era perfilman Indonesia yang baru dimana sineas-sineas muda kita jauh lebih kreatif dalam membuat film.

Ada film remaja, film komedi, film realis, film horor dan masih banyak lagi bahkan saking banyaknya muncul ajang penghargaan baru untuk film dari 'MTV' dan dari sineas Bandung bahkan ada usulan agar FFI dengan piala Citranya diadakan lagi.

Hal ini menunjukkan respon yang sangat positif bagi perkembangan film Indonesia. Jangan sampai citra positif ini dicemarkan dengan membuat film-film tidak berkualitas dan hanya menjual adegan seks apalagi jika film itu ditujukan untuk remaja. Separah-parahnya film Indonesia era kehancurannya tidak menujukan film tersebut untuk remaja. Target pasar yang mereka bidik memanglah segmen masyarakat dewasa yang sekuler.

Kiranya dari semua tanggapan tersebut, tidak ada salahnya film seperti 'BCG' dibredel karena selain mendapat respon negatif dan aksi protes dari berbagai kalangan, film ini juga dapat meracuni moral remaja yang masih gamang dalam menyikapi hidup. Selain itu adegan-adegan vulgar dalam film ini jelas-jelas melanggar PP No 7 tahun 1994 bukan hanya nilai moralitas dan agama saja, sehingga wajar adanya bila film ini akhirnya dibredel.

Namun kita tidak dapat memungkiri bahwa selain 'BCG', masih banyak tayangan-tayangan media yang harus mendapat tanggapan keras dari pihak hukum. Tentunya kita tidak bisa menganak tirikan film Indonesia saja, film-film asing seperti film Hollywood dan Bollywood yang juga banyak mengumbar adegan seks dan kekerasan juga harus dikoreksi.

Semoga kejadian ini memberi hikmah bagi kreator seni untuk dapat membuat film yang lebih berkualitas dengan banyak mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.


Nany Ariany (Kelompok Studi Perempuan SALAM UI)
natane@hellokitty.com
Jln Cibulan 7 no 26 Jakarta Selatan 12710

Halaman: <  2 3 4 5 6 7 8 >

Copyright 2003 Media Indonesia. All rights reserved.
Partnered with Indonesia Interactive
Comments and suggestions please email miol@mediaindonesia.co.id
Berita Terkini
Warga Surabaya Gotong Royong Siapkan TPS
Myskina/Sugiyama Juara Ganda Wismilak International
Beredar SMS Ajakan Pilih Capres Tertentu
Kurang Dana, TPS di Palu Dialihkan ke Rumah Penduduk